Senin, 02 Mei 2016

Secuil Pengalaman Mengalami Baby Blues Syndrome



Pernah dengar Baby Blues Syndrome? Pernah tapi gatau apa artinya? Atau malah belum pernah sama sekali? Oke mungkin di sini saya gak akan menjembrengkan secara detail tentang Baby Blues Syndrome, saya akan menjelaskan secara singkat, selebihnya saya akan menceritakan pengalaman saya ketika mengalaminya dan bagaimana cara saya menghadapi.

Baby Blues Syndrome adalah suatu kondisi di mana muncul perasaan gundah gulana atau adanya perasaan sedih yang dialami oleh seorang ibu paska melahirkan. Kondisi ini berlangsung hingga 2 minggu paska melahirkan, apabila lebih kemungkinan sampai ke tahap Post Partum Depression. Lebih lengkapnya baca di sini, sini dan sini.


http://informasikesehatanibu.blogspot.co.id/

http://lilsunwarrior.blogspot.co.id/2015/02/baby-blues-syndrome-part-2.html

Apa saya mengalaminya? Ya, saya mengalaminya. Sebelum melahirkan sebenarnya saya sudah membaca tentang sindrom ini tapi saya terlalu pede, saya gak bakal kena. Nyatanya, saya mengalaminya dan lumayan parah. Meski itu saya pendam sendiri.

Setelah melahirkan, saya sempat tidak bersemangat mengurus bayi. Bahkan saya enggan untuk menyusuinya. Ya, di awal lahir, bayi saya disusui pakai susu formula karena selain ASI saya saat itu belum keluar, saya juga merasa enggan untuk mencoba menyusui bayi saya. Hampir seminggu bayi saya disufor. Pelan-pelan ASI saya keluar, pelan-pelan juga saya mencoba menyusui meski masih saya selang-seling dengan sufor.

Beberapa hari setelahnya, saya jadi gampang nangis tanpa sebab. Saya merasa semua keluarga saya bahkan suami terlalu sibuk dengan si bayi dan saya merasa dicampakkan. Ketika saya menangis suami malah jadi terpancing emosi, bahkan tak jarang kami bertengkar. Perasaan gelisah saya makin parah. Apalagi ketika malam. Bayi saya selalu rewel di malam hari karena kolik, sedangkan paginya saya harus bangun lebih awal. Saya pikir perasaan gelisah, cemas dan gampang menangis ini akan segera hilang tapi saya salah.

Saya mulai merasakan aneh dengan diri saya. Setiap saya membawa benda tajam di dekat bayi rasanya ingin saya tusukkan ke anak saya. Atau bahkan saat saya membawa bantal, seperti ada bisikan untuk membekap anak saya dengan bantal. Saya diam. Tidak cerita ke siapapun karena saya takut disalahkan. Kondisi ini diperparah dengan tekanan dari semua orang yang lebih banyak memperhatikan si bayi. Saya dituntut untuk jadi ibu sempurna.

Pernah saking takutnya membawa benda tajam, saya tidak berani memotong kuku anak saya sampai usia 1 bulan lebih. Ketika keramas, saya takut memejamkan mata. Ketika malam hari anak saya sudah tidur, saya malah tidak bisa tidur. Saya pun sering mimpi aneh. Saya juga makin sering menangis menyendiri, suami saya semakin emosi. Akhirnya saya dan suami sempat renggang. Saking tidak tahan dan tidak tahu harus minta tolong sama siapa, saya memberanikan diri mencari artikel tentang Baby Blues Syndrome dan memohon ke suami untuk membacanya. Awalnya dia tidak peduli. Lama kelamaan ada perasaan takut juga dari suami. Pelan-pelan suami pun mulai peduli. Saat bayi kami tertidur, suami berusaha memberi pehatian lebih ke saya. Saat saya menangis tanpa sebab, suami saya cuma diam sambil membelai saya. Nyaman. Tenang. Damai.

Perlahan, Post Partum Depression yang saya alami berkurang. Meski sampai detik ini, terkadang ada keinginan untuk melukai bayi saya ketika saya terlalu lelah dan stres, saya bisa mengatasinya. Suami sayalah yang membuat saya mampu menghadapinya. Hanya dengan perhatiannya. Itu cukup.

Saran saya untuk ibu yang sedang hamil, sebaiknya mempersiapkan adanya kemungkinan Anda terkena  syndrome ini dari sekarang. Edukasi ke suami, atau kalau bisa juga ke keluarga, ke orang tua, ke mertua agar nanti ketika kalian mengalaminya, orang-orang terdekat kalian segera tanggap dan cepat mengatasinya.
Baby Blues Syndrome ini tidak main-main. Ketika syndrome ini naik tingkat ke Post Partum Depression bisa saya katakan nyawa anda atau anak anda yang akan jadi taruhan. Ya memang separah itu. Saya tidak lebay karena saya mengalaminya sendiri. Jika anda memang merasa mengalaminya segera bicarakan dengan suami dan beri tahu suami apa yang anda inginkan agar anda merasa nyaman. Meski mengalami masa nifas, tetap dekatkan diri anda pada Allah, berdoalah semoga anda segera 'disembuhkan'. Saat ada waktu luang, istirahatlah yang cukup. Ketika bayi anda tidur, berusahalah untuk tidur juga agar stamina anda tetap terjaga.

Untuk suami yang mungkin istrinya sedang hamil atau baru melahirkan, bantulah istri anda. Segera tanggap dan atasi kalau istri anda dicurigai terkena syndrome ini. Apa yang bisa kalian lakukan? Tetap berikan perhatian lebih ke istri anda setelah melahirkan, jangan hanya fokus ke bayi. Bantu istri anda mengurus bayi. Kalau bisa bantu juga minimal mencuci baju anak anda. Ringankan barang sedikit saja beban istri anda.

Untuk kalian yang mungkin kakaknya, adiknya, saudaranya yang sedang hamil atau baru saja melahirkan. Jangan tekan si ibu dengan tuntutan macam-macam. Beri kenyamanan. Jangan beri teori-teori tentang mengurus anak. Bantu mereka. Ajak bicara agar si ibu merasa nyaman dan diperhatikan lagi. Itu sudah cukup.

Post Partum Depression yang saya alami ini saya rasa masih cukup ringan. Banyak ibu-ibu di luar sana yang lebih parah. Ada beberapa pengalaman dari ibu yang lain juga. Baca di sini, sini dan sini.
Pernah baca berita tentang seorang ibu yang tega membunuh bayinya yang baru dilahirkan? Atau ibu yang tega menyiksa bayinya? Belum lama ini saya membaca berita tentang ibu yang tega menghajar bayinya cuma karena bayinya menggigit putingnya saat menyusui. Saya jadi mikir, mungkin ibu-ibu yang kita anggap tega itu mengalami Post Partum Depression tapi tidak ada orang terdekatnya yang tanggap dan peduli.

1 komentar: