Pernah dengar Baby
Blues Syndrome? Pernah tapi gatau apa artinya? Atau malah belum pernah sama
sekali? Oke mungkin di sini saya gak akan menjembrengkan secara detail tentang Baby Blues Syndrome, saya akan
menjelaskan secara singkat, selebihnya saya akan menceritakan pengalaman saya
ketika mengalaminya dan bagaimana cara saya menghadapi.
Baby Blues Syndrome adalah suatu kondisi di mana muncul perasaan
gundah gulana atau adanya perasaan sedih yang dialami oleh seorang ibu paska
melahirkan. Kondisi ini berlangsung hingga 2 minggu paska melahirkan, apabila
lebih kemungkinan sampai ke tahap Post
Partum Depression. Lebih lengkapnya baca di sini, sini dan sini.
![]() |
| http://informasikesehatanibu.blogspot.co.id/ |
![]() |
| http://lilsunwarrior.blogspot.co.id/2015/02/baby-blues-syndrome-part-2.html |
Apa saya mengalaminya? Ya, saya mengalaminya. Sebelum
melahirkan sebenarnya saya sudah membaca tentang sindrom ini tapi saya terlalu
pede, saya gak bakal kena. Nyatanya, saya mengalaminya dan lumayan parah. Meski
itu saya pendam sendiri.
Setelah melahirkan, saya sempat tidak bersemangat mengurus
bayi. Bahkan saya enggan untuk menyusuinya. Ya, di awal lahir, bayi saya
disusui pakai susu formula karena selain ASI saya saat itu belum keluar, saya
juga merasa enggan untuk mencoba menyusui bayi saya. Hampir seminggu bayi saya
disufor. Pelan-pelan ASI saya keluar, pelan-pelan juga saya mencoba menyusui
meski masih saya selang-seling dengan sufor.
Beberapa hari setelahnya, saya jadi gampang nangis tanpa
sebab. Saya merasa semua keluarga saya bahkan suami terlalu sibuk dengan si
bayi dan saya merasa dicampakkan. Ketika saya menangis suami malah jadi
terpancing emosi, bahkan tak jarang kami bertengkar. Perasaan gelisah saya
makin parah. Apalagi ketika malam. Bayi saya selalu rewel di malam hari karena
kolik, sedangkan paginya saya harus bangun lebih awal. Saya pikir perasaan
gelisah, cemas dan gampang menangis ini akan segera hilang tapi saya salah.
Saya mulai merasakan aneh dengan diri saya. Setiap saya
membawa benda tajam di dekat bayi rasanya ingin saya tusukkan ke anak saya.
Atau bahkan saat saya membawa bantal, seperti ada bisikan untuk membekap anak
saya dengan bantal. Saya diam. Tidak cerita ke siapapun karena saya takut
disalahkan. Kondisi ini diperparah dengan tekanan dari semua orang yang lebih
banyak memperhatikan si bayi. Saya dituntut untuk jadi ibu sempurna.
Pernah saking takutnya membawa benda tajam, saya tidak berani
memotong kuku anak saya sampai usia 1 bulan lebih. Ketika keramas, saya takut
memejamkan mata. Ketika malam hari anak saya sudah tidur, saya malah tidak bisa
tidur. Saya pun sering mimpi aneh. Saya juga makin sering menangis menyendiri,
suami saya semakin emosi. Akhirnya saya dan suami sempat renggang. Saking tidak
tahan dan tidak tahu harus minta tolong sama siapa, saya memberanikan diri
mencari artikel tentang Baby Blues
Syndrome dan memohon ke suami untuk membacanya. Awalnya dia tidak peduli.
Lama kelamaan ada perasaan takut juga dari suami. Pelan-pelan suami pun mulai
peduli. Saat bayi kami tertidur, suami berusaha memberi pehatian lebih ke saya.
Saat saya menangis tanpa sebab, suami saya cuma diam sambil membelai saya.
Nyaman. Tenang. Damai.
Perlahan, Post Partum
Depression yang saya alami berkurang. Meski sampai detik ini, terkadang ada
keinginan untuk melukai bayi saya ketika saya terlalu lelah dan stres, saya
bisa mengatasinya. Suami sayalah yang membuat saya mampu menghadapinya. Hanya
dengan perhatiannya. Itu cukup.
Saran saya untuk ibu yang sedang hamil, sebaiknya
mempersiapkan adanya kemungkinan Anda terkena
syndrome ini dari sekarang. Edukasi ke suami, atau kalau bisa juga ke
keluarga, ke orang tua, ke mertua agar nanti ketika kalian mengalaminya, orang-orang
terdekat kalian segera tanggap dan cepat mengatasinya.
Baby Blues Syndrome ini tidak main-main. Ketika syndrome
ini naik tingkat ke Post Partum
Depression bisa saya katakan nyawa anda atau anak anda yang akan jadi
taruhan. Ya memang separah itu. Saya tidak lebay karena saya mengalaminya
sendiri. Jika anda memang merasa mengalaminya segera bicarakan dengan suami dan beri tahu suami apa yang anda inginkan agar anda merasa nyaman. Meski mengalami masa nifas, tetap dekatkan diri anda pada Allah, berdoalah semoga anda segera 'disembuhkan'. Saat ada waktu luang, istirahatlah yang cukup. Ketika bayi anda tidur, berusahalah untuk tidur juga agar stamina anda tetap terjaga.
Untuk suami yang mungkin istrinya sedang hamil atau baru
melahirkan, bantulah istri anda. Segera tanggap dan atasi kalau istri anda
dicurigai terkena syndrome ini. Apa yang bisa kalian lakukan? Tetap berikan
perhatian lebih ke istri anda setelah melahirkan, jangan hanya fokus ke bayi.
Bantu istri anda mengurus bayi. Kalau bisa bantu juga minimal mencuci baju anak
anda. Ringankan barang sedikit saja beban istri anda.
Untuk kalian yang mungkin kakaknya, adiknya, saudaranya yang
sedang hamil atau baru saja melahirkan. Jangan tekan si ibu dengan tuntutan
macam-macam. Beri kenyamanan. Jangan beri teori-teori tentang mengurus anak.
Bantu mereka. Ajak bicara agar si ibu merasa nyaman dan diperhatikan lagi. Itu
sudah cukup.
Post Partum Depression yang saya alami ini saya rasa masih
cukup ringan. Banyak ibu-ibu di luar sana yang lebih parah. Ada beberapa
pengalaman dari ibu yang lain juga. Baca di sini, sini dan sini.
Pernah baca berita tentang seorang ibu yang tega membunuh
bayinya yang baru dilahirkan? Atau ibu yang tega menyiksa bayinya? Belum lama
ini saya membaca berita tentang ibu yang tega menghajar bayinya cuma karena
bayinya menggigit putingnya saat menyusui. Saya jadi mikir, mungkin ibu-ibu
yang kita anggap tega itu mengalami Post
Partum Depression tapi tidak ada orang terdekatnya yang tanggap dan peduli.


Ngeri juga yah...
BalasHapus