Rabu, 11 Mei 2016

Perjalanan Menemukan Arti #BahagiaDiRumah


Dalam rangka NOVAVERSARY yang ke 28, tabloid Nova mengadakan blogcontest yang bertema #BahagiaDiRumah. Jujur, saat sekilas membaca tema yang diangkat, saya langsung merasa flashback saat saya masih kecil dulu. Ada rasa sedih dan haru. Ada cerita terkait perjalanan saya menemukan arti #BahagiaDirumah yang ingin saya bagi.

Saya adalah sulung dari 4 bersaudara dengan jarak masing-masing anak cukup dekat. Dari kecil, saya sudah terbiasa mengurus adik-adik karena Ayah dan Ibu saya bekerja. Pekerjaan Ayah adalah karyawan swasta, sedangkan Ibu saya seorang guru dipelosok yang membutuhkan waktu 2 jam untuk ditempuh dari kota tempat tinggal kami. Praktis, Ibu saya berangkat dari rumah jam 5 pagi ketika saya dan adik-adik masih tertidur. Sedangkan Ayah berangkat kerja saat kami, anak-anaknya juga berangkat sekolah. Sering ketika kami terbangun, Ayah dan Ibu sudah berangkat semua. Saya dan adik-adik hanya bisa menangis. Memang Ibu menitipkan kami ke Budhe yang dekat dengan rumah, tapi beliau juga punya anak yang harus diurus jadi terkadang kami pun kurang diperhatikan. Alhasil, saya sebagai yang tertua membimbing adik-adik agar segera mandi dan berangkat sekolah.

Sepulang sekolah, setelah makan, kami pasti main ke tetangga hingga kami lupa waktu. Baru pulang ketika Ayah atau Ibu juga pulang. Kami merasa kurang #BahagiaDiRumah. Saat itu kami, apalagi saya, tidak peduli bahwa ada kebahagiaan di rumah. Bahwa lebih #BahagiaDiRumah. Suatu hari, saya baru menyadari bahwa saya merasa #BahagiaDiRumah saat saya dan adik-adik pulang sekolah. Seperti biasa, kami berjalan malas-malasan karena kami berpikir orang tua kami belum pulang. Sampai di dekat rumah, kami melihat pintu rumah sudah terbuka dan bau masakan membuat senyum kami melebar. Kami pun berlari, berlomba untuk segera sampai rumah meski jarak sudah dekat. Sampai rumah, kami dapati Ibu yang sedang memasak, hari itu pula kami sama sekali tidak mau main. Kami merasa sangat #BahagiaDiRumah. Sejak saat itu saya menganggap bahwa #BahagiaDiRumah adalah ketika Ibu kami pulang lebih awal dan sudah memasak untuk kami. Iya sesederhana itu. Ah, saya jadi melow kalau mengingat cerita itu :')

Saat saya sudah lulus kuliah, saya bekerja merantau ke kota seberang. Awalnya saya berpikir saya pasti betah. Nyatanya saya salah. Saya selalu ingat rumah dan selalu ingin pulang. Meski kegiatan saat di rumah itu-itu saja, begitu-begitu saja nyatanya memang saya selalu merindukan rumah. Pengertian saya tentang #BahagiaDiRumah pun bertambah. Rumah adalah tempat kembali, tempat berlabuh, tempat berkeluh kesah, tempat sedih, tempat bahagia, tempat air mata dan tawa. #BahagiaDiRumah adalah saat di mana kami sekeluarga bisa berkumpul. Saling merangkul. Saling bersandar.

Keluarga adalah Tempat Pulang
Setelah saya menikah, arti #BahagiaDiRumah bagi saya berbeda lagi, Apalagi saya seorang istri dan seorang Ibu yang dituntut harus selalu menjadikan rumah itu nyaman agar suami dan anak saya betah dan #BahagiaDiRumah. Hal pertama yang saya lakukan adalah saya resign dari tempat kerja saya. Keinginan saya sederhana. Saya ingin ketika suami saya pulang kerja, beliau mendapati istrinya sedang sibuk di dapur, mencoba resep baru. Atau ketika anak saya pulang sekolah, ia bisa segera berlari ke pelukan Ibunya dan mengadu tentang temannya yang jahil. Iya, sesederhana itu.

Hal lain yang saya lakukan agar suami #BahagiaDiRumah adalah menunggunya pulang dan bercengkerama bersama. Tak jarang, saya menemaninya movie marathon dari film yang disewanya karena memang suami saya hobi menonton film. Atau terkadang kami hanya minum teh dan mengobrol tentang banyak hal. Iya, sekali lagi sesederhana itu.

Nanti, saat anak saya sudah besar, saya juga ingin berusaha membuatnya #BahagiaDiRumah. Maka dari itu, dari sekarang saya menanamkan ke suami untuk tidak terlalu banyak mengambil job agar ada waktu yang bisa dihabiskan di rumah bersama keluarga. Saya ingin anak saya mempunyai quality time dengan orang tuanya. Saya juga ingin, suami saya bisa ikut mengikuti perkembangan anaknya. Bukankah masa kecil seorang anak ini hanya sebentar? Maka dari itu saya tidak ingin suami saya menyesal dikemudian hari saat anak saya memulai hidupnya sendiri dan tidak ada kenangan indah yang membekas di antara mereka.


Keluarga Kecil yang Selalu #BahagiaDiRumah
Sedangkan saya? Apa yang membuat saya #BahagiaDiRumah?

Jawabannya masih sederhana kok. Melihat keluarga kecil saya bahagia, saya akan selalu #BahagiaDiRumah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar